Landasan Kurikulum, Dimensi, Model, Fungsi, dan Peran

, ,

Nasucha id – Landasan Kurikulum, Dimensi, Model, Fungsi, dan Peran – Kurikulum akan selalu berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman. Hal ini dikarenakan kebutuhan pendidikan harus selalu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Adanya kurikulum yang selalu berkembang akan dapat memajukan pendidikan yang ada.

Secara umum pengertian kurikulum adalah adalah suatu program pendidikan dan perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan (kemendikbud) yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan (lihat wiki).

Landasan Kurikulum, Dimensi, Model, Fungsi, dan Peran

Agar lebih mengenal lebih dekat mengenai kurikulum, sebaiknya para guru atau calon guru mempelajari juga mengenai Landasan Kurikulum, Dimensi, Model, Fungsi, dan Peran kurikulum itu sendiri. Untuk mempelajarinya kita akan membahan satu persatu mulai dari dimensi kurikulum sampai dengan landasan kurikulum. Mari kita simak.

Dimensi Kurikulum

Toto Ruhimat dkk (S. Hamid Hasan,1988)  mengemukakan bahwa terdapat empat dimensi kurikulum, yaitu:

  1. Kurikulum sebagai suatu ide/gagasan.
  2. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai suatu ide.
  3. Kurikulum sebagai suatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah kurikulum sebagai suatu realita atau implementasi kurikulum. Secara teoritis dimensi kurikulum ini adalah pelaksanaan dari kurikulum sebagai suatu rencana tertulis.
  4. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan.

Dari keempat dimensi kurikulum tersebut, dapat kita kaitkan dengan pengertian Kurikulum. Pengkaitannya sebagai berikut:

Pengertian kurikulum dihubungkan dengan dimensi ide

Kurikulum adalah sekumpulan ide yang akan dijadikan pedoman dalam pengembangan kurikulum selanjutnya. Toto Ruhimat dkk (Donald E. Orlosky and B. Othanel Smith, 1978) mengemukakan “…curriculum is the substance of the school program. It is the content pupils are expected to learn”. Jika kita terjemahkan kurang lebihnya adalah kurikulum adalah substansi dari program sekolah. Ini adalah sesuatu yang diharapkan untuk dipelajari oleh siswa. (dimensi kurikulum ide)

Pengertian kurikulum dikaitkan dengan dimensi rencana

Kurikulum adalah seperangkat rencana dan cara mengadministrasikan tujuan, isi, dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendididikan tertentu. Pengertian-pengertian yang berkaitan dengan dimensi ini, di antaranya: Toto Ruhimat (Hilda Taba, 1962) mengemukakan“….A curriculum is a plan for learning; therefore,what is know about the learning process and the development of the individual has bearing on the shaping of curriculum”. (dimensi kurikulum rencana)

Pengertian kurikulum dikaitkan dengan dimensi aktivitas

Kurikulum merupakan segala aktifitas dari guru dan siswa dalam proses pembelajaran di sekolah. Pengertian-pengertian yang berkaitan dengan dimensi ini, di antaranya: Toto Ruhimat dkk (Harold Albertty, 1953) mengemukakan “ All of the activities that are provide for studens by the school constitutes its curriculum”. (dimensi kurikulum aktivitas)

Pengertian kurikilum berkaitan dengan dimensi hasil

Kurikulum dipandang dari segi hasil yang akan dicapai oleh siswa sesuai dengan apa yang telah direncanakan dan yang menjadi tujuan dari kurikulum tersebut. Pengertian-pengertian yang berkaitan dengan dimensi ini, di antaranya: Toto Ruhimat dkk mengemukakan “Kurikulum adalah segala usaha yang dilakukan oleh sekolah untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam situasi di dalam ataupun di luar sekolah”. (Hilda Taba dalam Nasution, Azas-azas kurikulum). (dimensi kurikulum hasil)

Di atas sedikit penjelasan mengenai dimensi kurikulum. Kita akan melanjutkan pembahasan mengenai fungsi kurikulum. (Landasan Kurikulum, Dimensi kurikulum, Model kurikulum, Fungsi kurikulum, dan Peran kurikulum)

Fungsi Kurikulum

Bagi guru, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bagi kepala sekolah dan pengawas, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan supervise atau pengawasan. Bagi orang tua, kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar di rumah.

Bagi masyarakat, kurikulum berfungsi sebagai pedoman untuk memberi bantuan bagi penyelenggaraan proses pendiddikan di sekolah. Bagi siswa itu sendiri, kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar.

Terdapat enam fungsi kurikulum berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, yaitu fungsi penyesuaian, integrasi, diferensasi, persiapan, pemilihan, dan diagnostik. Berikut penjelasan masing-masing:

a. Fungsi Kurikulum Sebagai Penyesuaian (the adjustive or adaptive function)

Kurikulum harus mampu mengarahkan siswa agar mampu menyesuiaankan dirinya dengan lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial.

b. Fungsi Kurikulum Sebagai Integrasi (the integrating function)

Kurikulum bermakna sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh, untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan masyarakat.

c. Fungsi Kurikulum Sebagai Diferensiasi (the differenting function)

Kurikulum bermakna sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa.

d. Fungsi Kurikulum Sebagai Persiapan (the propedeutic function)

Kurikulum bermakana sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi kejenjang pendidikan selanjutnya.

e. Fungsi Kurikulum Sebagai Pemilihan (the selective function)

Kurikulum bermakna sebagai alat pendidikan harus mampu memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

f. Fungsi Kurikulum Sebagai Diagnostik (the diagnostic function)

Kurikulum bermakna sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya.

Selah kita mengetahui dimensi kurikulum dan fungsi kurikulum, selanjutnya kita akan membahasan mengenai peranan kurikulum. (Landasan Kurikulum, Dimensi kurikulum, Model kurikulum, Fungsi kurikulum, dan Peran kurikulum)

Baca juga:  7 Teori Belajar dari Mata Kuliah Teori Pembelajaran

Peran Kurikulum

Peran Kurikulum – Kurikulum memiliki peranan yang sangat setrategis dan menentukan dalam pencapaian tujuan pendidikan. Terdapat tiga peran kurikulum, yaitu konservatif, kreatif, kritis, dan evaluatif. Berikut penjelasan masing-masing:

a. Peran Konservatif

Peran kurikulum secara konservatif. Peran konservatif kurikulum yaitu menekankan bahwa kurikulum itu dapat dijadikan sebagai sarana untuk mentrasmisikan nilai-nilai warisan budaya masa lalu yang dianggap masih relevan dengan masa kini kepada generasi muda (peserta didik).

b. Peran Kreatif

Peran kurikulum secara kreatif. Peran kreatif kurikulum yaitu menekankan bahwa kurikulum harus mampu mengembangkan sesuatu yang baru sesuai dengan perkembangan yang terjadi serta kebutuhan-kebutuhan masyarakat pada masa sekarang dan masa mendatang.

c. Peran Kritis dan Evaluatif

Peran kurikulum secara kritis dan evaluatif. Peran kritis dan evaluatif ini dilatarbelakangi oleh adanya budaya yang hidup dalam masyarakat senantiasa mengalami perubahan. Sehingga pewarisan nilai-nilai dan budaya masa lalu kepada siswa perlu disesuaikan dengan kondisi yang terjadi pada masa sekarang. Menekankan kurikulum harus turut aktif berpartisipasi dalam kontrol atau filter sosial. Ditulis oleh : Abdul Rohman (JPTM UPI Bandung 2008)

Setelah kita mempelajari dimensi, fungsi, dan peran kurikulum, kita akan melanjutkan pembahasan mengenai model kurikulum. (Landasan Kurikulum, Dimensi kurikulum, Model kurikulum, Fungsi kurikulum, dan Peran kurikulum)

MODEL KURIKULUM

Model kurikulum sedikitnya bisa kita menjadi 4 konsep. Model-model kurikulum di antaranya kurikulum subjek akademis, humanistik, rekonstruksi sosial, dan teknologis. Penjelasan dari masing-masing konsep tersebut sebagai berikut:

Model Kurikulum Subjek Akademis

Kurikulum subjek akademis merupakan kurikulum yang mengutamakan isi (subject matter). Kurikulum ini berisikan kumpulan bahan ajar dan rencana pembelajaran. Target utama dari kurikulum ini adalah penguasaan materi yang sebanyak-banyaknya.

Model Kurikulum Humanistik

Kurikulum humanistik merupakan kurikulum yang mengutamakan proses belajar mengajar. Kurikulum dikembangkan berdasarkan kebutuhan peserta didik. Peran guru sangat besar dalam memberikan suasana belajar yang nyaman kepada peserta didiknya. Target utama dari kurikulum ini adalah mengembangkan peserta didik menjadi pribadi yang mandiri.

Model Kurikulum Rekonstruksi Sosial

Kurikulum rekonstruksi sosial merupakan kurikulum yang bertujuan mempersiapkan peserta didik agar dapat menghadapi tantangan dalam dunia kerja. Kurikulum ini menuntut sekolah untuk dapat mengembangkan kehidupan sosial siswa dan bagaimana siswa dapat bergabung atau berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Model Kurikulum Teknologis

Kurikulum tekhnologis ini merupakan kurikulum yang menggabungkan antara ilmu pengetahuan dengan tekhnologi (dalam artian positif). Dengan maksud agar proses pembelajaran disekolah dapat lebih efektif dan efisien dengan dukungan teknologi.

Setelah kita mengetahui dimensi, fungsi, peran, dan model kurikulum, kita akan melanjutkan pembahasan mengenai Landasan kurikulum. (Landasan Kurikulum, Dimensi kurikulum, Model kurikulum, Fungsi kurikulum, dan Peran kurikulum)

Landasan Kurikulum

Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan terdapa empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum, yaitu: (1) filosofis; (2) psikologis; (3) sosial-budaya; dan (4) ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan diuraikan secara ringkas keempat landasan kurikulum tersebut.

a. Landasan Filosofis

Landasan kurikulum berdasarkan filosofi. Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum. Sama halnya seperti dalam Filsafat Pendidikan, kita dikenalkan pada berbagai aliran filsafat, seperti: perenialisme, essensialisme, eksistesialisme, progresivisme, dan rekonstruktivisme.

Dalam pengembangan kurikulum pun senantiasa berpijak pada aliran-aliran filsafat tertentu. Sehingga akan mewarnai terhadap konsep dan implementasi kurikulum yang dikembangkan. Dengan merujuk kepada pemikiran Ella Yulaelawati (2003), di bawah ini diuraikan tentang isi dari masing-masing aliran filsafat kaitannya dengan pengembangan kurikulum.

  1. Perenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan dari pada warisan budaya dan dampak sosial tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang memperhatikan kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut paham ini menekankan pada kebenaran absolut atau kebenaran universal yang tidak terikat pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi ke masa lalu.
  2. Essensialisme menekankan pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan serta keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains, dan mata pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Sama halnya dengan perenialisme, essesialisme juga lebih berorientasi pada masa lalu.
  3. Eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami kehidupan seseorang mesti memahami dirinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan : bagaimana saya hidup di dunia? Apa pengalaman itu?
  4. Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individual, berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Progresivisme merupakan landasan bagi pengembangan belajar peserta didik aktif.
  5. Rekonstruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Pada rekonstruktivisme, peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Di samping menekankan tentang perbedaan individual seperti pada progresivisme, rekonstruktivisme lebih jauh menekankan tentang pemecahan masalah, berpikir kritis dan sejenisnya. Aliran ini akan mempertanyakan untuk apa berpikir kritis, memecahkan masalah, dan melakukan sesuatu? Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar dari pada proses.

Simpulan Landasan Filosofis Kurikulum

Aliran Filsafat Perenialisme, Essensialisme, Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang mendasari terhadap pengembangan Model Kurikulum Subjek-Akademis. Sedangkan, filsafat progresivisme memberikan dasar bagi pengembangan Model Kurikulum Pendidikan Pribadi. Sementara, filsafat rekonstruktivisme banyak diterapkan dalam pengembangan Model Kurikulum Interaksional.

Masing-masing aliran filsafat pasti memiliki kelemahan dan keunggulan tersendiri. Oleh karena itu, dalam praktek pengembangan kurikulum, penerapan aliran filsafat cenderung dilakukan secara eklektif untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasikan berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. Meskipun demikian saat ini, pada beberapa negara dan khususnya di Indonesia, tampaknya mulai terjadi pergeseran landasan dalam pengembangan kurikulum, yaitu dengan lebih menitikberatkan pada filsafat rekonstruktivisme.

b. Landasan Psikologis

Landasan kurikulum berdasarkan kajian psikologis. Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengemukakan bahwa minimal terdapat dua bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulum yaitu (1) psikologi perkembangan dan (2) psikologi belajar.

Psikologi Perkembangan

Psikologi perkembangan merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya. Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu, serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum.

Psikologi Belajar

Psikologi belajar merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.

Baca juga:  Kompetensi Guru PPKn : Standar Isi Proses Pembelajaran

Masih berkenaan dengan landasan psikologis, Ella Yulaelawati memaparkan teori-teori psikologi yang mendasari Kurikulum Berbasis Kompetensi. Dengan mengutip pemikiran Spencer, Ella Yulaelawati mengemukakan pengertian kompetensi bahwa kompetensi merupakan “karakteristik mendasar dari seseorang yang merupakan hubungan kausal dengan referensi kriteria yang efektif dan atau penampilan yang terbaik dalam pekerjaan pada suatu situasi“.

Selanjutnya, dikemukakan pula tentang 5 tipe kompetensi, yaitu :

  1. Motif; sesuatu yang dimiliki seseorang untuk berfikir secara konsisten atau keinginan untuk melakukan suatu aksi.
  2. Bawaan; yaitu karakteristik fisik yang merespons secara konsisten berbagai situasi atau informasi.
  3. Konsep diri; yaitu tingkah laku, nilai atau image seseorang;
  4. Pengetahuan; yaitu informasi khusus yang dimiliki seseorang; dan
  5. Keterampilan; yaitu kemampuan melakukan tugas secara fisik maupun mental.

Kelima kompetensi tersebut mempunyai implikasi praktis terhadap perencanaan sumber daya manusia atau pendidikan. Keterampilan dan pengetahuan cenderung lebih tampak pada permukaan ciri-ciri seseorang. Sedangkan konsep diri, bawaan dan motif lebih tersembunyi dan lebih mendalam serta merupakan pusat kepribadian seseorang.

Kompetensi permukaan (pengetahuan dan keterampilan) lebih mudah dikembangkan. Pelatihan merupakan hal tepat untuk menjamin kemampuan ini. Sebaliknya, kompetensi bawaan dan motif jauh lebih sulit untuk dikenali dan dikembangkan. Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, E. Mulyasa (2002) menyoroti tentang aspek perbedaan dan karakteristik peserta didik. Dikemukakannya, bahwa sedikitnya terdapat lima perbedaan dan karakteristik peserta didik yang perlu diperhatikan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, yaitu : (1) perbedaan tingkat kecerdasan; (2) perbedaan kreativitas; (3) perbedaan cacat fisik; (4) kebutuhan peserta didik; dan (5) pertumbuhan dan perkembangan kognitif.

c. Landasan Sosial-Budaya

Landasan kurikulum berdasarkan sosial budaya. Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita maklumi bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakat.

Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula.

Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan pendidikan, kita tidak mengharapkan muncul manusia-manusia yang menjadi terasing dari lingkungan masyarakatnya. Tetapi justru melalui pendidikan diharapkan dapat lebih mengerti dan mampu membangun kehidupan masyakatnya.

Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat. Setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antaranggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya.

Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan perubahan dan penyesuaian terhadap tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat.

Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukamdinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang. Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan berlandaskan pada perkembangan sosial-budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global.

d. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi

Landasan kurikulum berdasarkan bersadarkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada awalnya, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlangsung hingga saat ini dan dipastikan ke depannya akan terus semakin berkembang.

Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak mungkin. Pada zaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa menginjakkan kaki di Bulan. Aetapi berkat kemajuan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada pertengahan abad ke-20, pesawat Apollo berhasil mendarat di Bulan dan Neil Amstrong merupakan orang pertama yang berhasil menginjakkan kaki di Bulan.

Kemajuan cepat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua dasa warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia melebihi jangkauan pemikiran manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi, dan politik yang memerlukan keseimbangan baru antara nilai-nilai, pemikiran dan cara-cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.

Selain itu, dalam abad pengetahuan sekarang ini, diperlukan masyarakat yang berpengetahuan melalui belajar sepanjang hayat dengan standar mutu yang tinggi. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berpikir dan belajar bagaimana belajar (learning to learn) dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi siatuasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian.

Perkembangan dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga peserta didik dapat mengimbangi dan sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia.

Di atas merupakan pembahasan lengkap tentang kurikulum yang mengkaji mulai dari Landasan Kurikulum, Dimensi kurikulum, Model kurikulum, Fungsi kurikulum, hingga Peran kurikulum. Teman-teman dapat memperdalam lagi pembelajaran mengenai kurikulum dengan memanfaatkan hashtag #Kurikulum yang di Nasucha id ini. Terima kasih, semoga bermanfaat.

Silahkan kunjungi halaman beranda kami. Nasucha id.

1 Share 1.000 Love

Rahasia

Nasucha

Seorang yang sedang belajar untuk menjadi pemerhati "pendidikan anak". Khususnya anak kita nanti. UvU
Rahasia

Tinggalkan komentar