Pubertas kedua: Pembahasan, Ciri, dan Upaya Mengatasi

,

Nasucha id – Pada kesempatan ini, kami akan mencoba mengkaji mengenai fenomena pubertas kedua.

Seperti yang kita ketahui bahwa pubertas kedua merupakan istilah yang ditujukan untuk seseorang yang berusia paruh baya dengan dandanan atau perilaku layaknya anak remaja.

Apakah benar seperti itu? Bagaimana cara mengatasi pubertas kedua? Apa itu bisa dihindari?

Mari kita bahas bersama-sama.

Pengertian Pubertas

Sebelum membahas mengenai apa itu pubertas kedua, lebih baik kita kaji terlebih dahulu pengertian dari pubertas itu sendiri.

Seperti yang dikutip dari Wikipedia, Pubertas atau akil balig adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual.

Masa pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur 8 hingga 10 tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun.

Pada masa ini memang pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat.

Pada wanita pubertas ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah. (♥¹)

Penyebab munculnya pubertas adalah hormon yang terpengaruh oleh hipofisis/pusat dari seluruh sistem kelenjar penghasil hormon.

Hal tersebut mendasari remaja yang memasuki masa pubertas akan memuculkan ciri pada kelamin sekunder yang dapat membedakan antara laki-laiki dan perempuan.

Pubertas terjadi karena tubuh mulai memproduksi hormon-hormon se*s sehingga alat reproduksi telah berfungsi dan tubuh mengalami perubahan.

Hormon yang mempengaruhi pada perempuan adalah estrogen dan progesteron yang diproduksi di indung telur.

Sedangkan pada laki-laki diproduksi oleh testis dan dinamakan testosteron.

Hormon-hormon tersebut ada di dalam darah dan memengaruhi alat-alat dalam tubuh sehingga terjadilah beberapa pertumbuhan. (♥²)

Pubertas kedua
Ilustrasi masa puber (Pixaby.com)

Masa puber adalah tahap perkembangan manusia di mana pada masa ini terjadi perkembangan organ reproduksi.

Anak laki-laki maupun anak perempuan akan mengalami masa puber.

Berikut ciri-ciri anak laki-laki dan perempuan pada masa puber.

Ciri-ciri pebertas pada remaja

Ciri-ciri pubertas pada anak laki-laki dalam masa puber, yaitu:
1. Tumbuhnya rambut halus pada ketiak dan alat kelamin
2. Suara jadi membesar
3. Tumbuh jakun
4. Tumbuh kumis, jambang, dan janggut

Ciri-ciri pubertas pada anak perempuan dalam masa puber, yaitu:
1. Tumbuhnya rambut halus pada ketiak dan alat kelamin
2. Suara jadi melengking
3. Payudara membesar
4. Pinggul membesar
(Sumber: ♥³)

Perubahan hormon pada masa puber tersebut tidak hanya memengaruhi penampilan dan organ reproduksi.

Perubahan hormon tersebut juga akan berpengaruh terhadap kondisi psikologis.

Remaja yang sedang puber kondisi emosionalnya meluap-luap dan tidak mudah ditebak.

Selain lebih emosional, pada masa puber akan timbul hasrat seksual.

Sehingga ketertarikan remaja pada masa puber terhadap lawan jenis bukan sesuatu yang asing.

Pengertian dan Kajian Mengenai Pubertas Kedua

Telah kita ketahu bahwa pubertas merupakan masa di mana seseorang khususnya remaja mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan fungsi seksual.

Namun saat ini kita sudah tidak asing lagi dengan sebutas pubertas kedua atau puber kedua.

Kalian pernah lihat bukan sesorang yang telah berusia paruh baya dengan dandanan yang mencolok layaknya anak muda yang baru gede? Apa mungkin seorang tersebut terserang pubertas kedua?

Yuk kita telaah bersama.

Pengertian Pubertas kedua

Secara umum pubertas kedua adalah istilah yang sering digunakan untuk menyebut orang dewasa berperilaku selayaknya remaja baru memasuki masa pubertas.

Beberapa yang terlihat adalah lebih memperhatikan penampilan, perubahan mood yang lebih fluktuatif, dan lebih agresif . (♥10)

Dari segi medis, puber akibat perubahan hormon pada usia belasan tahun sebenarnya hanya terjadi satu kali saja.

Sebenarnya yang terjadi pada usia paruh baya bukanlah pubertas.

Namun lebih tepat disebut sebagai krisis paruh baya atau midlife crisis. (♥11)

Pubertas Kedua Pada Pria

Sebagian besar pria yang berusia antara 40-65 tahun mengeluh mengalami kesulitan berkonsentrasi, mudah lelah, mudah tersinggung, dan kehilangan daya ingat.

Selain itu, mereka juga mengeluhkan beberapa kondisi fisik seperti nyeri sendi dan anggota gerak, nyeri punggung, dan peningkatan berat badan.

Segala kondisi fisik dan mental tersebut kemudian menurunkan hasrat seksual.

Dalam sebuah fase kehidupan, seorang pria akan mengalami periode emosi yang tidak stabil, yaitu sekitar usia 50 tahun.

Perubahan kondisi fisik dan emosional ini secara umum menyebabkan menurunnya rasa percaya diri, kepuasan hidup, dan bahkan kualitas skala kepuasan hubungannya dengan pasangan.

Hal inilah yang mungkin menjadi cikal bakal runtuhnya hubungan rumah tangga. (♥4)

Secara psikologis, pubertas kedua itu ada.

Biasanya kondisi suami puber kedua ini rentan dialami pada pria yang sudah matang, berusia mulai 40-45 tahun.

Pada usia ini para pria biasanya sudah berada dalam puncak karier atau tengah menuai kesuksesan.

Di umur ini pula, umumnya pernikahan sudah memasuki usia yang ‘matang’ baik dalam hal financial maupun perasaaan bersama.

Dalam kondisi finansial yang sudah matang, biasanya memang ada godaan di luar.

Makanya kalau sejak awal pernikahan sudah tidak harmonis, maka memang akan berisiko datang pihak ketiga. (♥9)

Upaya mengatasi Pubertas Kedua pada Pria

Sebenarnya krisis paruh baya pada pria ini bisa dicegah.

Hal ini dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat sejak muda.

Sehingga mengurangi risiko nyeri sendi dan nyeri punggung akibat menurunnya kondisi fisik dan hasrat seksual.

Kedua, dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga teratur, menghindari rokok serta alkohol adalah cara sederhana yang dapat Anda lakukan untuk mencegah dampak krisis paruh baya.

Cara ini juga cukup efektif untuk menjaga kualitas hubungan dengan pasangan. (♥5)

Menjaga komunikasi yang baik antara Anda dengan pasangan juga harus selalu dijaga. Bisa juga dengan merayakan selebrasi pernikahan.

Untuk mengingat momen bahagia bersama-sama.

Sederhananya luangkan dua-tiga jam untuk makan berdua saja.

Sehingga suami istri bisa benar-benar fokus tanpa perlu memikirkan anak dulu.

Dengan begitu komunikasi juga bisa lebih lancar.

Aktivitas se*s perlu diperhatikan.

Jangan sampai, karena merasa kehidupan seksual tidak mendebarkan seperti dulu, kemudian menimbulkan ada celah kosong yang bisa digantikan oleh perempuan lain. (♥6)

Pubertas Kedua pada Wanita

Pubertas kedua pada wanita sering kali dikaitkan dengan masa perimenopause.

Perimenopause adalah masa transisi pada wanita, beberapa tahun sebelum memasuki masa menopause.

Pada periode ini, produksi estrogen oleh ovarium secara bertahap mengalami penurunan.

Masa ini akan berlangsung hingga ovarium benar-benar berhenti melepaskan sel telur dan wanita memasuki masa menopause.

Pada sebagian wanita, masa ini dapat bermula pada usia 30-an atau lebih awal.

Sementara pada sebagian lainnya pada usia 40-an.

Masa ini dapat berlangsung dalam jangka waktu yang berbeda-beda pada tiap wanita, berkisar antara 4 hingga 10 tahun.

Secara fisik, wanita pada masa perimenopause dapat mengalami hot flashes (sensasi panas), kelelahan, haid tidak teratur, jantung berdebar-debar, pusing, sakit kepala, menurunnya tingkat kesuburan, berubahnya hasrat seksual, berkurangnya kepadatan tulang, perubahan kadar kolesterol, payudara terasa kencang, sindrom pramenstruasi yang memburuk, vagina kering, dan lebih sering buang air kecil.

Selain perubahan fisik, terjadi juga perubahan secara psikologis dalam masa ini, yang mencakup:
1. Perubahan mood secara mendadak.
2. Sulit tidur.
3. Beban pikiran berlebih.
4. Kecemasan.
5. Serangan panik.
6. Merasa hilang kendali.
7. Sulit berkonsentrasi.
8. Kebingungan.

Tidak semua wanita akan mengalami seluruh gejala di atas.

Namun ini adalah ciri-ciri umum yang dialami wanita pada masa perimenopause. (♥7)

Upaya Meringankan Gejala Perimenopause

Beberapa cara berikut dapat dicoba untuk membantu meredakan gejala-gejala perimenopause, di antaranya:
• Berhenti merokok dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol.
• Perbanyak aktivitas fisik dan rutin berolahraga.
• Cukupi kebutuhan kalsium harian.
• Jaga berat badan.
• Cukupi kebutuhan istirahat, dengan berusaha tidur dan bangun di jam yang sama.
• Konsultasikan kepada dokter apakah Anda perlu mengonsumsi suplemen tambahan atau obat-obatan tertentu.

Apakah gejala-gejala di atas perlu dikhawatirkan?

Sebagian wanita dapat menoleransi perubahan-perubahan ini, sementara sebagian lain memerlukan bantuan medis.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami beberapa kondisi berikut:
• Timbul bercak darah setelah melakukan hubungan seksual, atau di antara periode menstruasi.
• Masa haid Anda berlangsung lebih lama, lebih banyak, atau mengalami penggumpalan darah.
• Menstruasi Anda datang lebih sering.

Hal-hal di atas dapat disebabkan oleh gangguan hormon, kehamilan, penggunaan alat kontrasepsi, atau suatu kondisi medis.

Meski tingkat kesuburan dan produksi estrogen pada wanita sudah menurun di masa-masa ini, namun masih terdapat kemungkinan untuk hamil.

Oleh karenanya, disarankan untuk tetap menggunakan alat kontrasepsi pada masa puber kedua (perimenopause), jika tidak berencana untuk memiliki anak. (♥8)

Kesimpulan

Jika dilihat dari segi medis memang istilah pubertas kedua itu tidak ada.

Namun pada pria masalah pubertas kedua tersebut lebih tepatnya disebut sebagai krisis paruh baya atau midlife crisis. Sedangkan pada wanita sering kali dikaitkan dengan masa perimenopause.

Permasalahan-permasalahan tersebut dapat diatasi ataupun dihindari. Intinya memang kembali lagi kepada kesadaran kita masing-masing untuk menjaga hubungan rumah tangga.

Jalin dan jagalah komunikasi dengan pasangan. Itulah kunci untuk menjaga keharmonisan keluarga.

Semoga bermanfaat, terima kasih.

Daftar pustaka

(♥¹) (♥²) https://id.wikipedia.org/wiki/Pubertas

(♥³) Subekti, Ari, dkk. 2018. Buku Guru SD/MI Kelas VI Tema 6 Menuju Masyarakat Sejahtera Edisi Revisi 2018. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

(♥4) (♥5) (♥11) https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3620063/pubertas-kedua-pada-pria-mitos-atau-fakta

(♥6) https://id.theasianparent.com/suami-puber-kedua

(♥7) (♥8) (♥9) (♥10) https://www.alodokter.com/dunia-medis-tidak-mengenal-istilah-puber-kedua

1 Share 1.000 Love

Rahasia

Nasucha

Seorang yang sedang belajar untuk menjadi pemerhati "pendidikan anak". Khususnya anak kita nanti. UvU
Rahasia

Tinggalkan komentar